E satu com (Bandung) -  Di tengah ketidakpastian global APBN 2024 bekerja keras meredam gejolak melindungi rakyat dan menjaga stabilitas ekonomi dengan fiskal tetap sehat.


Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tumbuh positif sebesar 4,91 persen (yoy), dengan kontributor tertinggi PDRB Lapangan Usaha dari Industri Pengolahan sebesar 41,87 persen.

Dari sisi PDRB Pengeluaran, kontributor tertinggi berasal dari Konsumsi Rumah Tangga sebesar 65,53 persen sedangkan Konsumsi Pemerintah berkontribusi sebesar 4,68 persen.

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Jawa Barat sampai dengan 31 Desember 2024 kembali mencatatkan surplus sebesar Rp28,79 triliun dengan total pendapatan mencapai Rp155,73 triliun (97,36 persen dari APBN) sementara total belanja mencapai Rp126,94 triliun (97,53 persen dari APBN).

Kinerja pendapatan negara di wilayah Jawa Barat mampu mencapai Rp155,73 triliun (97,36 persen dari target APBN) atau masih tumbuh positif 3,12 persen yoy. Penerimaan perpajakan mencapai Rp119,65 triliun (tumbuh 5,62 persen YoY), terutama ditopang kinerja perekonomian yang resilien dan efektivitas reformasi perpajakan.

Dari lima jenis pajak, kelompok PPN dan PPnBM mengalami pertumbuhan 1,69 persen (Rp980 miliar) dibanding periode yang sama tahun lalu. PBB mengalami pertumbuhan sebesar 11,72 persen (Rp64 M) dibandingkan periode Desember 2023.

Penerimaan sektor utama perpajakan mayoritas tumbuh positif. Penerimaan Neto Sektor Industri Pengolahan tumbuh sebesar 0,47 persen. Sektor ini cukup dominan dengan memberikan kontribusi sebesar 45,23 persen.

Sektor ini mengalami pelemahan akibat Purchasing Manager Index (PMI) tahun 2024 menurun.
Penerimaan Perjenis Pajak menunjukan peningkatan. Penerimaan neto PPN DN tumbuh 2,31 persen selama tahun 2024. Penerimaan Neto PPh 21 tumbuh 18,96 persen didorong banyaknya pembayaran pajak masa Desember 2023 yang dibayarkan pada TW I 2024.

Penerimaan neto PPN Impor tumbuh 8,84 persen, penerimaan neto PPh Psl 25/29 Badan mengalami pertumbuhan sebesar 1,89 persen, dan penerimaan neto PPh Final tumbuh positif sebesar 4,38 persen jika dibandingkan dengan tahun 2023.
Realisasi kepabeanan dan cukai tahun 2024 mencapai Rp28,61 triliun (100,20 persen APBN).

Kanwil dan KPPBC melakukan pengawasan dan penindakan rokok ilegal dengan jumlah penindakan s.d. 31 Desember 2024 sebanyak 4.223 penindakan, serta jumlah Barang Hasil Penindakan 62,19 juta batang dengan perkiraan nilai barang Rp82,88 miliar dan potensi penerimaan negara yang hilang Rp44,63 miliar.

Pertumbuhan positif menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi yang memperkuat penerimaan negara dari berbagai sektor. Total realisasi PNBP tumbuh positif sebesar 2,96 persen (yoy) dengan capaian 141,23 persen dari target Rp5,16 triliun yang kontribusi dari berbagai sumber PNBP lainnya dan pendapatan yang dihasilkan Badan Layanan Umum.

Kinerja Pendapatan negara 2024 yang positif ini menjadi pondasi untuk mendukung berbagai agenda pembangunan 2025.
Belanja negara tahun 2024 dioptimalkan sebagai shock absorber dan agent of development,
ditengah perekonomian global masih dibayangi risiko ketidakpastian yang tinggi.

Realisasi Belanja Pemerintah Pusat (BPP) mencapai 93,20 persen dengan pertumbuhan 5,15
persen, mencerminkan peningkatan efektivitas dan optimalisasi penggunaan anggaran.

Pertumbuhan BPP terjadi pada semua jenis belanja kecuali Belanja Modal,
pertumbuhan terbesar pada Belanja Bantuan Sosial sebesar 13,43 persen.

Keseimbangan Primer menunjukkan surplus sebesar Rp28,79 triliun. Semakin membaiknya kinerja penerimaan perpajakan dan PNBP memberikan andil yang kuat dalam menciptakan angka surplus.

(herwin)
Baca Juga

Post A Comment:

0 comments:

Back To Top