Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif
E satu.com (Indramayu) - Ribuan massa dari Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI) menggelar aksi unjuk rasa damai di Alun-alun Pendopo Indramayu, Kamis 30 April 2026.
Aksi berlangsung tertib, aman, dan kondusif dengan pengawalan aparat gabungan.
Aksi ini diikuti ribuan masyarakat pesisir yang tergabung dalam KOMPI, dengan koordinator lapangan Hatta Bintang. Perwakilan pemerintah daerah yang menerima aspirasi adalah Pelaksana Tugas (Plt) Kasat Pol PP dan Damkar Kabupaten Indramayu, Asep Afandi.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan penolakan terhadap rencana Program Strategis Nasional (PSN) revitalisasi tambak Pantura.
Secara simbolis, mereka menyerahkan petisi tanda tangan di atas kain putih serta memberikan “hadiah” lima ekor biawak kepada perwakilan pemerintah.
Aksi dimulai sekitar pukul 09.48 WIB dan berlangsung hingga siang hari pada Kamis, 30 April 2026. Unjuk rasa dipusatkan di Alun-alun Indramayu, tepatnya di depan Kantor Pendopo Bupati Indramayu, setelah massa bergerak dari titik kumpul di halaman Kuliner Cimanuk.
Massa menolak revitalisasi tambak karena dinilai mengancam mata pencaharian petambak yang telah menggarap lahan secara turun-temurun. Salah satu peserta aksi, Darso (48), petambak asal Desa Karanganyar, Kecamatan Pasekan, menyebut lahan tambaknya sudah dikelola keluarganya sejak sekitar tahun 1945.
Ia menuntut adanya kompensasi layak jika lahan diambil alih, dengan nilai ideal mencapai Rp400 juta per hektare.
Aksi diawali dengan kegiatan religius seperti sholawatan dan istigosah, kemudian dilanjutkan dengan orasi secara bergiliran. Massa menyampaikan aspirasi secara damai dan tertib di bawah pengawalan aparat kepolisian dari wilayah Cirebon dan Brimob.
Perwakilan pemerintah, Asep Afandi, menerima langsung petisi serta simbol “hadiah” biawak dari massa. Ia menyatakan seluruh tuntutan akan dicatat dan dilaporkan kepada Bupati Indramayu untuk ditindaklanjuti. “Semua tuntutan KOMPI akan kami perjuangkan dan sampaikan kepada pimpinan,” ujarnya.
KOMPI menjelaskan, pemberian biawak bukan bentuk negatif, melainkan simbol harapan dan pesan moral. Dalam pandangan masyarakat, biawak kerap dimaknai sebagai tanda kewaspadaan, kekuatan adaptasi, serta harapan akan datangnya keberuntungan.
“Ini simbol doa agar masyarakat pesisir mendapat keberuntungan, dan pemimpin memiliki kekuatan serta kepekaan, bukan kerakusan,” tegas Hatta Bintang.
Aksi berakhir dengan tertib tanpa insiden, meski massa menyayangkan tidak hadirnya Bupati Indramayu untuk menemui langsung para demonstran. (iwan)















.webp)












