Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Cirebon) - Kuasa hukum Fatimah Azzahra, Hetta Mahendrati Latumeten, membantah berbagai tuduhan yang selama ini diarahkan kepada kliennya.

Ia menegaskan, informasi yang beredar di publik tidak sepenuhnya benar dan menyangkut ranah pribadi rumah tangga.

Dalam keterangannya, Hetta menyampaikan bahwa kondisi rumah tangga Fatimah dan suaminya, R, sebenarnya telah mengalami permasalahan sejak lama, bahkan sebelum isu yang kini berkembang mencuat ke publik.

“Berbagai tuduhan yang diarahkan kepada prinsipal kami tidaklah benar. Dan itu merupakan ranah pribadi,” ujar Heta.

Ia menjelaskan, pada awal Januari tahun lalu, Fatimah disebut telah dikembalikan kepada orang tuanya. Proses tersebut disaksikan langsung oleh kedua orang tua Fatimah serta ibu dari R.

Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa persoalan rumah tangga keduanya sudah cukup serius sejak lama.

Hetta juga mengungkapkan, konflik rumah tangga yang berkepanjangan berdampak terhadap kondisi psikologis kliennya. Selama kurang lebih tiga tahun terakhir, Fatimah disebut menjalani perawatan dan konsultasi dengan psikiater.

“Prinsipal kami menjalani perawatan dan konsultasi dengan psikiater sebagai akibat konflik rumah tangga yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan,” katanya.

Meski demikian, selama ini pihaknya memilih untuk tidak memberikan pernyataan apa pun demi menjaga martabat keluarga dan melindungi kondisi psikologis anak-anak.

Ia menambahkan, Fatimah tetap menghormati R sebagai ayah dari anak-anaknya. Karena itu, pendekatan yang dipilih selama ini adalah menahan diri dan menjaga etika.

Di akhir pernyataannya, pihak kuasa hukum mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan menghormati privasi keluarga mereka.

“Tidak semua luka rumah tangga layak dijadikan tontonan publik. Ada perempuan yang sedang mencoba menyelamatkan sisa hidupnya dan bangkit perlahan dari kehancuran yang pernah dialami,” tutup Hetta.

Sementara itu, Fatimah Azzahra, menegaskan keputusannya berbicara ke publik bukan untuk memperkeruh suasana, melainkan meluruskan berbagai narasi yang menurutnya tidak benar.

"Hari ini saya memutuskan untuk berdiri di sini dan berbicara bukan karena saya menginginkan kegaduhan. Tapi karena saya diam selama ini ternyata disalahartikan," ujar Fatimah.

Ia mengaku telah berusaha bersabar selama hampir 10 tahun menjalani kehidupan rumah tangga.

Menurutnya, sikap diam yang selama ini dipilih bukan berarti dirinya lemah ataupun membenarkan berbagai tuduhan yang beredar.

"Saya diam bukan karena saya lemah. Saya diam bukan karena saya membenarkan narasi-narasi keliru yang beredar di luar sana," katanya.

Fatimah menegaskan, fokus utamanya saat ini adalah kondisi mental dan masa depan anak-anaknya yang disebut ikut terdampak akibat persoalan tersebut.

"Fokus utama saya saat ini adalah masa depan dan mental anak-anak saya yang lumayan terganggu dengan adanya tragedi ini. Mereka tidak butuh drama atau narasi palsu, mereka butuh ketenangan," ucapnya.

Ia berharap proses hukum yang sedang berjalan dapat berlangsung sebagaimana mestinya tanpa adanya serangan pribadi terhadap dirinya maupun keluarganya.

"Saya berharap proses hukum ini bisa berjalan dengan semestinya tanpa perlu ada lagi pembunuhan karakter terhadap saya, keluarga besar saya, ataupun anak-anak saya," lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Fatimah juga membantah keras tuduhan yang menyebut dirinya pernah bekerja sebagai perempuan malam.

"Saya dicap LC, saya dicap pelacur, saya dicap pernah bekerja sebagai perempuan malam. Itu semua adalah tuduhan yang tidak benar," tegasnya.

Menurut Fatimah, selama ini ia memilih menahan diri meski terus menerima tudingan tersebut.

Namun kini ia memutuskan untuk melawan seluruh tuduhan yang dianggap mencemarkan nama baiknya.

"Saya adalah seorang ibu yang selalu menjaga marwah anak-anak saya," pungkasnya. (Wandi)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Cirebon) - Menyambut antusiasme para penonton Gala Premiere drama keluarga paling dinantikan tahun ini, Rapi Films, Screenplay Films dan Vortera Studios telah memberikan
kejutan bagi para pecinta film tanah air. Melalui agenda spesial bertajuk "Nonton Duluan", publik berkesempatan menyaksikan film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan" lebih awal di 40 kota yang tersebar dari Sabang sampai Merauke sebelum rilis reguler pada 13 Mei 2026.

Agenda nonton duluan ini diselenggarakan selama dua hari, yakni pada Sabtu, 9 Mei 2026 dan Minggu, 10 Mei 2026. Program ini merupakan apresiasi bagi para penggemar yang sudah tidak sabar mengikuti perjalanan emosional keluarga Yuke (Lulu Tobing) dan Kesha (Yasmin Napper) dalam menjaga memori keluarga yang kian memudar.

Penayangan spesial ini akan tersebar di berbagai jaringan bioskop favorit masyarakat, mulai dari XXI, CGV, hingga Cinepolis.

Tangis Haru dari Para Penonton

Kisah keluarga Yuke berhasil menciptakan tangis haru para penonton yang berkesempatan untuk menonton film ini duluan. Banyak dari penonton yang mengaku kalau mereka keluar dari 0bioskop tidak hanya dengan perasaan sedih, namun memiliki pandangan baru akan betapa berharganya memori yang kita miliki.


“Rasanya habis nonton film ini aku mau peluk mama papa seerat mungkin. Aku jadi teringat kenangan-kenangan indah masa kecilku, ketika mama siapin bekal, berantem-berantem sama adik, semoga kenangan ini nggak akan pernah hilang,” kata Indri, seorang penonton di acara

penayangan spesial ini.

Tentang Film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan"

Film karya sutradara Kuntz Agus dan penulis skenario Alim Sudio ini mengangkat tema caregiving dan memori keluarga. Berkisah tentang perjuangan seorang mahasiswi film, Kesha (Yasmin Napper), yang harus menghadapi kenyataan pahit saat ibunya, Yuke (Lulu Tobing), mulai

kehilangan ingatan akibat Alzheimer. Film ini mengajak penonton untuk menghargai setiap detik kebersamaan bersama orang tercinta. (Wandi).
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Cirebon) - TNI AL Lanal Cirebon melalui Sarwajala Diving Club turut ambil bagian dalam Kejuaraan Selam Finswimming Nomor Kolam Antar Pelajar dan Antar Club “Bandung Open 2026” yang digelar di Kolam Renang Tirtalega, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (9/5/2026).

Kejuaraan tersebut diikuti 205 peserta dari 20 klub selam se-Jawa Barat. Dalam ajang itu, Sarwajala Diving Club mengirimkan delapan atlet finswimming nomor kolam untuk berlaga di berbagai kategori perlombaan.

Komandan Lanal Cirebon Letkol Laut (P) Faisal Yanova Tanjung, S.E., M.Tr.Opsla., mengatakan pihaknya berkomitmen penuh dalam pembinaan olahraga selam melalui latihan yang rutin dan berkesinambungan.


“Sebagai pembina olahraga selam POSSI Kota Cirebon, kami terus mendukung pembinaan dan pelatihan atlet secara konsisten agar mampu meraih prestasi di berbagai kejuaraan,” kata Letkol Laut Faisal dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026).


Pada kejuaraan tersebut, Sarwajala Diving Club berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih delapan medali emas. Rinciannya, dua medali emas nomor 100 meter dan 200 meter bifin putra, tiga medali emas nomor 100 meter, 200 meter, dan 400 meter surface putra, serta tiga medali emas nomor estafet 4x100 meter surface putra, 4x100 meter surface putri, dan 4x100 meter bifin putra.


Selain itu, atlet binaan Lanal Cirebon, Riski Fajaris, juga sukses meraih predikat Atlet Peselam Terbaik pada ajang Bandung Open 2026.


Faisal menilai capaian tersebut menjadi bukti nyata komitmen Lanal Cirebon dalam mendukung pembinaan generasi muda berprestasi di bidang olahraga selam.

“Prestasi ini diharapkan dapat memotivasi atlet muda lainnya untuk terus berlatih dan mengharumkan nama daerah maupun TNI AL di tingkat regional dan nasional,” pungkasnya. (Wnd)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Kabupaten Cirebon) -
Pagelaran Wayang Kulit Pedalangan Gegesik di Alun-alun Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, menjadi ajang regenerasi dalang muda sekaligus upaya pelestarian seni budaya tradisional.

Kegiatan yang digelar dari tanggal 8 hingga 14 Mei 2026 dan bertajuk “Saptawara” itu resmi dibuka dan diikuti para seniman pedalangan, dari wilayah Kabupaten Cirebon dan sekitarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, Fajar Sutrisno mengatakan, penyelenggaraan Saptawara yang memasuki tahun ke-33 menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat Gegesik dalam menjaga tradisi budaya daerah.


Ia menyebut, tidak banyak kecamatan di Kabupaten Cirebon yang mampu mempertahankan pagelaran budaya secara konsisten hingga puluhan tahun, seperti yang dilakukan masyarakat Gegesik.

“Gegesik menjadi salah satu kecamatan yang terus menjaga tradisi seni pedalangan dan melahirkan regenerasi dalang,” katanya, Jumat (8/5/2026) malam.

Menurut dia, regenerasi menjadi hal penting dalam menjaga keberlanjutan seni tradisional, karena para dalang senior pada waktunya akan digantikan generasi muda.


Ia menilai minat generasi muda terhadap seni tradisional perlu terus didorong agar budaya pedalangan tetap berkembang di tengah perubahan zaman.

“Generasi pedalangan harus terus dikembangkan dan diregenerasikan. Pemerintah daerah mengapresiasi Gegesik yang tetap konsisten melahirkan dalang-dalang muda,” ujarnya.

Fajar mengatakan Kecamatan Gegesik selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung seni dan budaya di Kabupaten Cirebon, khususnya dalam bidang pewayangan.

Karena itu, pihaknya berharap masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan di daerah tersebut terus menjaga keberlangsungan budaya lokal agar tetap diminati masyarakat luas.


Ia memastikan Pemerintah Kabupaten Cirebon mendukung pelaksanaan pagelaran budaya seperti Saptawara, agar dapat terus dilaksanakan setiap tahun secara berkesinambungan.

Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus dalang Sudarso mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan, serta para kuwu yang ikut membantu terselenggaranya kegiatan tersebut.

Menurut dia, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan para seniman dalam menjaga pelestarian budaya sekaligus membina regenerasi dalang muda di Kabupaten Cirebon.

“Kami berharap kegiatan ini terus mendapat dukungan dan bimbingan, agar bisa terselenggara setiap tahun sebagai bagian dari pelestarian budaya,” pungkasnya.

Sumber: Diskominfo Kabupaten Cirebon
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Kabupaten Cirebon) -
Kabut tipis masih menggantung di sela perbukitan ketika langkah demi langkah mulai menapaki jalan setapak yang membelah ilalang.

Suara gemericik air terdengar samar dari kejauhan, bersahut dengan desir angin yang mengusap pucuk-pucuk daun.

Di sepanjang perjalanan, hamparan sawah membentang seperti permadani hijau yang belum selesai ditenun. Sesekali, suara burung liar memecah sunyi.

Jalanan kecil yang melintasi Desa Girinata, Desa Cipanas hingga ke Desa Kedongdong Kidul perlahan membawa siapa pun menjauh dari hiruk-pikuk kota, menuju sebuah tempat yang seolah disembunyikan alam dengan sengaja.

Di balik jalur penjejakan (tracking) yang cukup menantang itulah, Curug Ciranca berdiri tenang di Desa Kedondong Kidul, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon.

Air terjun setinggi sekitar 30 meter itu jatuh deras dari tebing batu yang kokoh dan gelap. Dari kejauhan, aliran airnya tampak seperti sehelai kain putih panjang yang dijatuhkan dari langit perbukitan.


Percikan airnya membentuk kabut halus yang beterbangan, membasahi dedaunan liar di sekitarnya.

Tak ada gemerlap lampu wisata atau deretan bangunan modern di tempat ini. Curug Ciranca justru memikat karena kesederhanaannya.

Alam dibiarkan tumbuh dengan caranya sendiri. Tebing-tebing batu menjulang tanpa sentuhan berlebihan, akar-akar pohon menggantung liar, sementara sungai kecil di bawah curug terus mengalir jernih membelah bebatuan.

Langkah menuju titik air terjun memang bukan perjalanan singkat yang mudah. Setelah kendaraan diparkir di sekitar permukiman warga atau area kantor desa, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak, pematang sawah, hingga pinggiran sungai.

Beberapa bagian jalur bahkan cukup licin, terutama selepas hujan. Namun, justru di situlah pengalaman itu terasa utuh.

Setiap pijakan seperti mengajarkan cara menikmati perjalanan dengan lebih perlahan. Tak sedikit pengunjung yang berhenti sejenak hanya untuk mengatur napas sambil memandang perbukitan hijau yang mengelilingi kawasan tersebut.

Ada juga yang sengaja duduk di batu-batu sungai, membiarkan suara alam mengambil alih percakapan.

Curug Ciranca kini sering disebut sebagai “hidden gem” oleh para pelancong lokal. Lokasinya yang tersembunyi membuat tempat ini tetap terasa alami. Tidak banyak perubahan yang menghilangkan karakter aslinya.

Airnya pun dikenal sangat segar, karena berasal langsung dari mata air pegunungan.

Bagi sebagian orang, Curug Ciranca bukan hanya tempat wisata, melainkan ruang untuk beristirahat dari kebisingan hidup sehari-hari.


Di bawah suara air yang jatuh tanpa henti, waktu terasa berjalan lebih lambat. Telepon genggam kehilangan daya tariknya. Orang-orang datang bukan untuk tergesa-gesa, melainkan untuk diam, mendengar, dan merasakan.

Nana Surana, Penjabat Kuwu Desa Kedondong Kidul mengatakan, Curug Ciranca selalu ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan tiba.

“Setiap akhir pekan Curug Ciranca ramai dikunjungi pengunjung untuk menikmati keindahan alamnya,” ujar Nana saat ditemui, Jumat (8/5/2026).

Menurut Nana, banyak pengunjung datang dari berbagai daerah di sekitar Kabupaten Cirebon untuk menikmati suasana alam yang masih asri.

Sebagian besar sengaja mencari tempat yang jauh dari keramaian wisata modern.

Meski demikian, akses menuju curug tetap menjadi perhatian penting bagi pengunjung. Jalur tracking yang alami membuat wisatawan perlu mempersiapkan diri sebelum datang.

“Pengunjung yang akan ke Curug Ciranca diimbau untuk menggunakan sepatu atau sandal gunung tracking,” kata Nana.

Saran itu bukan tanpa alasan. Beberapa jalur dipenuhi ilalang dan batu-batu licin. Namun bagi para pecinta alam, medan seperti itu justru menghadirkan sensasi petualangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Di sekitar kawasan curug, pengunjung biasanya membawa bekal sendiri. Ada yang menikmati makan siang sederhana di atas batu sungai, ada pula yang hanya duduk menikmati kopi hangat sambil memandangi aliran air.

Anak-anak muda kerap mengabadikan momen dengan kamera, sementara sebagian lainnya memilih bermain air di tepian sungai yang dangkal.

Meski belum berkembang menjadi destinasi wisata besar, Curug Ciranca perlahan mulai dikenal luas melalui cerita dari mulut ke mulut dan media sosial.

Foto-foto tebing batu serta aliran airnya yang megah sering muncul di lini masa para pelancong.

Bagi masyarakat Desa Kedondong Kidul, kehadiran Curug Ciranca menyimpan harapan tersendiri. Alam yang selama ini mereka jaga, diharapkan dapat memberi manfaat ekonomi tanpa harus kehilangan keasriannya.

“Kami berharap Curug Ciranca ini menjadi destinasi wisata yang mampu mendongkrak ekonomi Desa Kedondong Kidul,” pungkas Nana.

Harapan itu terdengar sederhana, tetapi mengandung makna yang besar. Sebab di tengah cepatnya perubahan dan derasnya pembangunan, tempat-tempat seperti Curug Ciranca mengingatkan bahwa alam bukan sekadar objek untuk dikunjungi, melainkan ruang yang perlu dijaga bersama.

Menjelang sore, cahaya matahari perlahan menyelinap di sela pepohonan. Air Curug Ciranca masih jatuh dengan suara yang sama—tenang, deras, dan setia mengisi sunyi perbukitan Dukupuntang.

Orang-orang mulai beranjak pulang dengan langkah pelan, membawa baju yang basah oleh percikan air dan hati yang terasa sedikit lebih ringan.

Mungkin, memang seperti itulah cara alam bekerja. Ia tidak banyak bicara, tetapi selalu tahu bagaimana membuat manusia pulang dengan perasaan yang berbeda. 


Sumber: Diskominfo Kabupaten Cirebon
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Cirebon) -
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 3 Cirebon terus memperkuat keamanan dan kenyamanan pelanggan kereta api di area stasiun. Salah satu upaya yang dilakukan yakni menambah pemasangan Closed Circuit Television (CCTV) analitik di sejumlah stasiun wilayah operasional Daop 3 Cirebon.

Penambahan CCTV analitik dilakukan di beberapa stasiun, di antaranya Stasiun Cirebon, Stasiun Cirebon Prujakan, Stasiun Pegadenbaru, Stasiun Haurgeulis, Stasiun Jatibarang, dan Stasiun Brebes.

Berbeda dengan CCTV konvensional yang hanya merekam kejadian, CCTV analitik dilengkapi sistem yang mampu memberikan notifikasi proaktif terhadap kejadian tertentu. Teknologi ini dapat mendeteksi, mengklasifikasikan, hingga melacak objek maupun aktivitas secara real-time.

Manager Humas Daop 3 Cirebon, Muhibbuddin mengatakan, penerapan CCTV analitik merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memberikan perlindungan maksimal kepada pelanggan selama berada di stasiun.

"Dengan adanya penambahan CCTV analitik ini, kami ingin memastikan pelanggan merasa aman dan nyaman karena sistem ini membantu mendeteksi dengan cepat potensi gangguan, seperti pencurian, pelecehan seksual, sampai aktivitas mencurigakan. Sehingga petugas dapat segera merespons dan melakukan penanganan secara cepat serta meminimalisir potensi gangguan keamanan," ujar Muhib, Kamis (7/5/2026).

Hingga saat ini, KAI Daop 3 Cirebon telah menambah 14 unit CCTV analitik di lima stasiun wilayah operasionalnya.

Kamera pengawas tersebut ditempatkan di sejumlah titik strategis, terutama akses pintu masuk dan pintu keluar stasiun yang dinilai rawan gangguan keamanan.


Selain meningkatkan keamanan, keberadaan CCTV analitik juga membantu petugas saat terjadi kepadatan penumpang. Melalui pemantauan real-time, petugas dapat segera memberikan imbauan untuk menjaga ketertiban dan mencegah potensi gangguan.

Muhibbuddin menambahkan, sistem pengawasan modern tersebut memudahkan petugas dalam melakukan pemantauan secara menyeluruh.

“Pengawasan dapat dilakukan secara lebih optimal karena petugas dapat memantau kondisi secara real-time dan merespons lebih cepat jika terjadi gangguan keamanan. Selain itu, rekaman CCTV juga dapat digunakan sebagai bukti untuk mendukung proses penanganan dan pelaporan ke pihak berwajib,” jelasnya.

Ia berharap, langkah penambahan CCTV analitik ini dapat semakin meningkatkan keamanan pelanggan maupun aset perusahaan dari potensi gangguan pihak yang tidak bertanggung jawab. (Wandi)
AADD Biro Jasa STNK
Back To Top