Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Kota Tangerang ) -
Pemerintah Kota Tangerang melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) menggelar kegiatan Silaturahmi Kebangsaan di GOR Nambo Jaya Sport Center, Kelurahan Nambo Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi kemasyarakatan (ormas), organisasi kepemudaan (OKP), hingga tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh budaya.

Dalam sambutannya, Wali Kota Tangerang H. Sachrudin menekankan pentingnya menjaga kebersamaan di tengah keberagaman. Ia juga mengajak masyarakat untuk mengenang jasa para pahlawan serta meneruskan perjuangan mereka melalui persatuan, toleransi, dan pembangunan.

Namun, di tengah pesan tentang persatuan dan kebangsaan tersebut, muncul harapan dari masyarakat agar nilai-nilai yang disampaikan dalam kegiatan tidak berhenti pada forum seremonial, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Pasalnya, bagi sebagian masyarakat, persoalan kebangsaan tidak hanya berkaitan dengan menjaga kerukunan dan kondusivitas. Persoalan ekonomi, kebutuhan hidup, akses terhadap pelayanan publik, serta perhatian pemerintah terhadap warga yang sedang mengalami kesulitan juga menjadi bagian dari realitas kehidupan masyarakat.

Seorang warga Kota Tangerang yang mengikuti kegiatan tersebut, namun meminta namanya tidak disebutkan, berharap Pemerintah Kota Tangerang dapat meningkatkan kepekaan sosial dan rasa empati terhadap kondisi masyarakat.

Menurutnya, pemerintah perlu lebih banyak mendengar persoalan warga secara langsung dan tidak hanya mengandalkan gambaran kondisi masyarakat melalui laporan administratif.

«“Pemerintah harus berani melihat kenyataan bahwa masih ada warga yang hidupnya berat. Jangan hanya melihat yang sudah berhasil, tetapi juga dengarkan mereka yang masih kesulitan,” ujarnya.»

Ia juga berharap perhatian tersebut secara khusus dapat ditingkatkan oleh Wali Kota Tangerang H. Sachrudin terhadap masyarakat yang tengah menghadapi tekanan ekonomi.

“Kami sangat berharap, khususnya kepada Bapak Sachrudin selaku Wali Kota Tangerang, bisa lebih meningkatkan kepekaan sosial dan rasa empati kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang sedang berkeluh kesah karena terhimpit beban ekonomi yang sangat berat,” ujarnya, Sabtu (15/8/2026).

Menurutnya, kepedulian pemerintah terhadap masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan merupakan salah satu bentuk nyata dari semangat kebersamaan dan persatuan.

Harapan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya dapat diukur melalui pembangunan fisik, berbagai program, penghargaan, maupun angka-angka capaian pemerintahan.

Di balik berbagai capaian tersebut, masih terdapat masyarakat yang berharap persoalan mereka dapat didengar dan mendapatkan perhatian.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu terus membuka ruang komunikasi dengan masyarakat, terutama mereka yang berada dalam kondisi ekonomi sulit dan membutuhkan perhatian.

Masyarakat tidak hanya membutuhkan pemerintah yang mampu menyampaikan keberhasilan pembangunan. Mereka juga membutuhkan pemerintah yang terbuka mengakui bahwa masih terdapat persoalan yang belum terselesaikan dan masih ada warga yang membutuhkan kehadiran serta perhatian pemerintah.

Dalam konteks tersebut, Silaturahmi Kebangsaan dapat memiliki makna yang lebih luas apabila tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi turut menjadi ruang untuk mempertemukan pemerintah dengan berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Sebab, persatuan bukan hanya ketika masyarakat berkumpul dalam satu tempat, mengikuti rangkaian kegiatan, dan menyampaikan deklarasi bersama.

Persatuan juga dapat tumbuh ketika masyarakat merasa didengar, dihargai, diperhatikan, dan mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

Dengan demikian, semangat kebangsaan tidak hanya hadir di atas panggung, tetapi juga dirasakan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

(AWW)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Tangerang) -
Menyambut  peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, pemerintah kota Tangerang melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol)  menggelar kegiatan Silaturahmi Kebangsaan yang diadakan di GOR Nambo, Kelurahan Nambo Jaya, Kecamatan Karawaci, pada Sabtu (15/8/2026) yang di hadiri pula oleh Wakil Walikota, para Kepala OPD, Kajari, Kapolres Metro Kota Tangerang, Ketua MUI, para tokoh agama, tokoh masyarakat, 20  organisasi kepemudaan, 71  organisasi masyarakat ( Ormas ) serta tokoh budaya sekota Tangerang.

Wali Kota Tangerang Drs. H. Sachrudin, dalam sambutannya, mengungkapkan rasa haru dan bangga melihat kekompakan seluruh elemen daerah yang bersatu untuk membangun bangsa Indonesia dari Kota Tangerang.

"Ini adalah hari yang mengharukan bagi kita semua, di mana seluruh elemen bangsa di Kota Tangerang bersatu untuk membangun Indonesia dari Kota Tangerang. Suasana persatuan inilah yang sangat dirindukan oleh para pejuang kemerdekaan kita terdahulu," ujar H. Sachrudin.


H. Sachrudin juga menegaskan, silaturahmi merupakan kunci utama penyelesaian berbagai tantangan daerah sekaligus modal dasar pembangunan kota.

" Untuk mengatasi masalah, apa pun kuncinya adalah silaturahmi dimudahkan urusan, dimurahkan rezeki dan dipanjangkan umur. Kota Tangerang ini adalah miniatur Indonesia, dan dengan keberagamannya kita bisa terus hidup bersama-sama secara harmonis ", ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Kesbangpol Kota Tangerang Wawan Fauzi menyampaikan, Silaturahmi Kebangsaan ini dirancang sebagai ruang dialog serta wadah kolaborasi antar-organisasi di Kota Tangerang.

"Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa seluruh elemen masyarakat, baik ormas keagamaan maupun organisasi kepemudaan, memiliki pemahaman dan komitmen yang sama dalam menjaga iklim yang kondusif, aman dan toleran di Kota Tangerang, khususnya menyongsong peringatan HUT ke-81 RI," tutur Wawan Fauzi.


Ketua Pelaksana Kegiatan, Saiful Basri, menyampaikan apresiasi atas tingginya antusiasme seluruh pimpinan Ormas dan OKP se-Kota Tangerang yang hadir serta berikrar bersama.

"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kehadiran serta komitmen dari 71 Ormas serta 20 OKP yang memadati GOR Nambo hari ini. Ajang Silaturahmi Kebangsaan ini menjadi wadah perekat persaudaraan sekaligus wujud kesiapan elemen masyarakat sipil dan pemuda dalam menjaga kedamaian serta ketertiban kota kita tercinta," ujar Saiful.

Acara yang diawali dengan hiburan tarian tradisional, dilanjutkan dengan ikrar bersama, kemudian pembacaan doa yang disampaikan oleh para tokoh agama dari semua agama dan ditutup dengan pidato Walikota Tangerang yang begitu semangat dan disambut dengan antusias oleh para peserta yang hadir dengan penuh kegembiraan.


(Boby/MS)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Kota Cirebon) - 
Satuan Tugas (Satgas) Cirebon Deklarasi menyatakan sikap menolak keberadaan aktivitas LGBT yang dinilai bertentangan dengan nilai moral dan norma sosial masyarakat di Kota Cirebon.

Ketua DPD KNPI Kota Cirebon, Jaka Permana, mengatakan pihaknya merasa prihatin dengan adanya perilaku yang menurutnya dianggap menyimpang dan dilakukan secara terbuka di ruang publik.

“Kami merasa malu dan risih ataupun moral kami terpanggil dengan adanya banyaknya penyimpangan yang beredar ataupun yang terang-terangan di muka umum di publik yang dilakukan oleh sekelompok ataupun perorangan,” ujar Jaka Permana saat ditemui dalam kegiatan Proklamasi 15 Agustus di Tugu Pensil, Kejaksan Kota Cirebon, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Jaka, perilaku tersebut dinilai dapat memberikan pengaruh terhadap generasi muda apabila ditampilkan secara terbuka di hadapan masyarakat.

“Ini sangat mencerminkan perilaku yang tidak layak dan tidak terpuji, yang di mana generasi muda dipertontonkan dengan tingkah laku penyimpangan seksual,” katanya.

Sementara itu, Ketua Satgas Anti-LGBT Cirebon, Lutfi Adam Zakaria, mengatakan langkah awal yang akan dilakukan adalah sosialisasi dan edukasi.

Ia menekankan pendekatan yang digunakan tidak semata-mata berupa penolakan, tetapi juga upaya merangkul dan memberikan pemahaman.


“Bagaimanapun juga mereka adalah manusia. Tujuan kami memanusiakan manusia, untuk bisa merangkul dan kembali lagi kepada awal,” ungkapnya.

Adam menjelaskan pembentukan satgas berawal dari keinginan untuk memitigasi persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang dinilai memengaruhi seseorang hingga terlibat dalam perilaku seksual yang menjadi perhatian mereka, mulai dari lingkungan pergaulan hingga persoalan ekonomi.

“Beberapa orang atau perilaku penyimpangan ini awalnya adalah korban. Kemudian ada karena circle atau juga karena ekonomi. Dari latar belakang itulah kita bersepakat dan berkomitmen membentuk Satuan Tugas Pemuda Anti-LGBT,” jelasnya.

 Sementara Agung ditunjuk sebagai koordinator untuk wilayah Kota Cirebon dan Mas Syaerotikhwan sebagai koordinator Kabupaten Cirebon.

Ke depan, satgas tersebut menargetkan perluasan gerakan ke wilayah Ciayumajakuning yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, serta Kuningan.

Adams juga mengklaim mengenai jumlah orang yang disebutnya terlibat dalam perilaku LGBT di wilayah Ciayumajakuning mencapai angka  sekitar 15.000 orang, sementara di Kota Cirebon diperkirakan hampir 4.000 orang.

Satgas Pemuda Anti-LGBT menyatakan pendekatan yang akan dikedepankan adalah sosialisasi, edukasi, pencegahan, dan pendampingan. Mereka menyebut upaya tersebut diarahkan untuk menjaga generasi muda sekaligus mengedepankan pendekatan kemanusiaan. (wandi)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Kota Cirebon) -
Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Cirebon memperingati momen bersejarah Proklamasi 15 Agustus 1945 di Tugu Pensil, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi para pemuda untuk mengenang perjuangan tokoh sejarah dan pejuang yang turut menggerakkan semangat kemerdekaan di Kota Cirebon.

Ketua DPD KNPI Kota Cirebon, Jaka Permana, mengatakan, pihaknya merasa bangga dapat memperingati perjuangan dr. Sudarsono yang dinilai menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan di Kota Cirebon.

Menurut Jaka, perjuangan para tokoh sejarah tersebut harus menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus mengukir sejarah dan menjaga nilai-nilai perjuangan.

"Suatu kebanggaan bagi kami DPD KNPI Kota Cirebon terhadap dr. Sudarsono. Itu menjadi bagian dari motivasi kami sebagai pemuda untuk terus mengulang sejarah, mengukir sejarah," ujar Jaka saat ditemui wartawan, Sabtu (15/8/2026).

Ia menuturkan, semangat perjuangan yang dilakukan para tokoh terdahulu harus terus diterapkan oleh generasi muda saat ini.

"Bagaimana ketika perjuangan beliau harus kita lakukan dan dilaksanakan pada saat ini. Di mana posisinya adalah kami bangga untuk menjaga dan merawat sejarah itu sendiri," katanya.


Jaka menambahkan, peringatan Proklamasi 15 Agustus juga menjadi pengingat penting bagi generasi muda agar tidak melupakan jasa para pejuang dan tokoh sejarah.

"Dalam momen ini, kita terkait dengan apa yang tadi disampaikan, yaitu merawat perjuangan para pejuang, para sejarah, para tokoh," ucapnya.

Ia berharap keberadaan Tugu Pensil dan berbagai peninggalan sejarah lainnya di Kota Cirebon dapat terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi muda.

Menurutnya, menjaga sejarah bukan hanya sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun karakter pemuda agar memiliki semangat perjuangan dan rasa cinta terhadap daerah serta bangsa. (Wandi)
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Cirebon) -
Gerakan Mahasiswa Pecinta Alam (GEMAPALA) Bunga Bangsa Cirebon sekali lagi menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan pesisir melalui program Pengembaraan Angkatan XI Tirta Nawa, yang mengusung tema "Gerakan Menanam 500 Mangrove".

Acara ini digelar pada Sabtu, 15 Agustus 2026, di area Wisata Bahari Micil, Bondet, Desa Mertasinga, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon.

Sebanyak 500 bibit mangrove ditanam di kawasan pesisir sebagai bagian dari usaha menjaga ekosistem pantai. Selain penanaman, GEMAPALA Bunga Bangsa Cirebon juga melakukan penyemaian dan perawatan mangrove untuk memastikan pertumbuhan dan manfaat jangka panjangnya.


Zhevida Seventa Achmad, Ketua Pelaksana kegiatan ini, menyatakan bahwa program penanaman mangrove merupakan agenda rutin yang dilaksanakan GEMAPALA Bunga Bangsa Cirebon setiap tahun.

Nunung Ajeng Rahayu Saputri, Sekretaris Pelaksana, menambahkan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari Pengembaraan Angkatan XI GEMAPALA Bunga Bangsa Cirebon.

Kegiatan tersebut melibatkan pelajar, mahasiswa, serta pemuda dan pemudi dari wilayah sekitar Bondet. Tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas lingkungan, tetapi juga menjadi sarana edukasi guna mengenalkan pentingnya menjaga dan mencintai lingkungan sejak dini.

Moh. Nurhadi, S.H., Dewan Kehormatan GEMAPALA Bunga Bangsa Cirebon, menegaskan bahwa penanaman mangrove merupakan upaya menjaga ekosistem pesisir agar tetap stabil dan terjaga.


Menurutnya, kegiatan ini memiliki nilai pendidikan karena memberikan pemahaman langsung kepada generasi muda tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya di wilayah pesisir yang rentan terhadap abrasi dan banjir rob.

Penanaman mangrove tidak sebatas menancapkan bibit ke dalam lumpur. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bentuk komitmen untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam, terutama di kawasan pesisir.

Akar mangrove yang saling terhubung juga menggambarkan semangat gotong royong dan kerja sama. Oleh karena itu, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga bagaimana mangrove tersebut disemai, dirawat, dan dipertahankan hingga tumbuh menjadi ekosistem yang kokoh.

Secara ekologis, mangrove memainkan peran penting dalam melindungi garis pantai dari abrasi, meredam gelombang, dan mengurangi dampak banjir rob.


Ekosistem mangrove juga menjadi tempat tinggal bagi berbagai biota pesisir seperti ikan, udang, dan kepiting, sekaligus berkontribusi dalam penyerapan dan penyimpanan karbon.

Lewat kegiatan ini, GEMAPALA Bunga Bangsa Cirebon berharap gerakan menanam mangrove tidak sekadar menjadi acara seremonial tetapi terus berlanjut dan melibatkan masyarakat serta generasi muda dalam usaha menjaga lingkungan pesisir.

Gerakan menanam 500 mangrove menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dengan langkah sederhana.

Menanam hari ini, merawat esok hari, dan menjaga pesisir untuk generasi mendatang.

Reporter : Ali Bisma
Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif

E satu.com (Kota Cirebon) -
Ada pesan mendalam yang disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati, Prof. Dr. H. Mukarto Siswoyo, Drs., M.Si., kepada para jamaah yang akan berangkat menunaikan ibadah umrah pada tanggal 27 Agustus 2026.

Bukan tentang kemewahan perjalanan. Bukan pula tentang siapa yang paling mampu secara finansial.

Di hadapan para calon tamu Allah, Mukarto justru mengingatkan satu hal yang dianggap jauh lebih penting: meluruskan niat dan membersihkan hati.

Pesan tersebut disampaikan Mukarto saat membuka kegiatan manasik umrah jamaah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati bersama ICMI Travel IT-310, yang digelar di Kantor Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati, Jalan Stadion Bima No. 1, Kota Cirebon, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan manasik menjadi tahapan penting sebelum rombongan bertolak ke Tanah Suci. Selain membekali jamaah dengan pengetahuan mengenai tata cara ibadah umrah, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mempersiapkan mental, fisik dan terutama hati sebelum menjadi tamu Allah di Makkah dan Madinah.

“Banyak Uang Belum Tentu Bisa Berangkat”

Dalam sambutannya, Mukarto mengajak para jamaah untuk tidak melihat kesempatan umrah hanya dari sisi kemampuan ekonomi.

Menurutnya, seseorang bisa saja memiliki uang yang cukup dan kondisi kesehatan yang baik, tetapi belum tentu mendapatkan kesempatan untuk berangkat ke Tanah Suci.

Karena itu, para jamaah yang mendapatkan kesempatan tersebut harus benar-benar mensyukurinya.

“Jangan salah niat. Yang banyak uang dan badannya sehat belum tentu bisa berangkat. Jadi, kita harus bersyukur bahwa kita yang terpilih ini adalah orang-orang yang mendapat kesempatan untuk bertamu di rumah Allah,” ujar Mukarto.

Pesan itu sekaligus menjadi pengingat agar perjalanan umrah tidak berhenti sebagai perjalanan fisik dari Indonesia menuju Arab Saudi. Lebih dari itu, umrah harus menjadi perjalanan batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Di hadapan jamaah, Mukarto juga membagikan sebuah pengalaman pribadi yang menurutnya menjadi pelajaran tentang kekuatan doa dan keyakinan.

Ia menceritakan pengalaman setelah menunaikan ibadah haji. Saat itu, dirinya berdoa agar Allah kembali memberikan keturunan.

Dengan gaya bercerita yang ringan, Mukarto mengisahkan bagaimana doa tersebut kemudian mendapatkan jawaban.

“Saya pernah berdoa setelah pulang ibadah haji. Saya meminta kepada Allah, dari rahim istri saya, ya Allah, berikan saya seorang anak lagi,” kenangnya.

Tidak lama setelah itu, sekitar satu bulan usai kepulangannya dari Tanah Suci, Mukarto mendapat kabar bahwa istrinya hamil.

Anak yang lahir dari doa tersebut kini telah berusia 13 tahun dan sedang menempuh pendidikan di Pesantren Bina Insani.

Bagi Mukarto, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa doa harus disertai keyakinan yang kuat dan hati yang bersih.

“Keyakinan yang kuat, yang bersih, doa akan disegerakan. Niscaya Allah akan mengabulkan doa kita,” katanya.

Pesan itu pun menjadi salah satu inti manasik: datang ke Baitullah bukan sekadar membawa koper, tetapi juga membawa hati yang siap untuk beribadah.

Mukarto kemudian menyampaikan pesan yang cukup tegas kepada jamaah penerima fasilitas umrah dari yayasan.

Ia mengibaratkan kesempatan tersebut seperti kegiatan pelatihan yang diselenggarakan sebuah lembaga. Menurutnya, ada perbedaan sikap antara seseorang yang mengikuti pelatihan dengan biaya sendiri dan seseorang yang mendapatkannya secara gratis.

Orang yang mengeluarkan biaya sendiri, kata Mukarto, biasanya memiliki rasa tanggung jawab dan kesungguhan lebih besar.

Namun, ia menegaskan bahwa analogi tersebut jangan sampai justru membuat jamaah menganggap remeh fasilitas umrah yang diberikan yayasan.

Sebaliknya, karena perjalanan tersebut merupakan bentuk apresiasi lembaga, jamaah harus semakin serius menjalankan ibadah.

“Jangan sampai karena umrah ini dibiayai lembaga atau yayasan, kemudian dimanfaatkan tidak sebagaimana mestinya. Justru harus semakin sungguh-sungguh. Luruskan niat untuk beribadah kepada Allah dan bertamu ke Baitullah,” tegasnya.

Mukarto berharap seluruh jamaah mampu menjaga niat sejak keberangkatan hingga kembali ke tanah air.

Ia juga berpesan agar jamaah menjaga kesehatan, mengikuti tuntunan ibadah dan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan selama berada di Tanah Suci.

Mukarto menegaskan bahwa fasilitas perjalanan umrah tersebut merupakan bentuk penghargaan atau reward dari lembaga.

Menurutnya, tidak ada imbalan khusus yang diminta yayasan dari para jamaah.

Justru, satu hal yang diharapkan adalah doa agar Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati terus berkembang dan semakin kuat dalam menjalankan perannya di dunia pendidikan.

“Ini adalah reward dari lembaga, murni niat baik dari UGJ. Kami tidak meminta imbalan apa pun. Kami hanya meminta doa terbaik untuk Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati agar selalu maju dan jaya di dalam dunia pendidikan,” ungkapnya.

Pemberian fasilitas umrah tersebut menjadi bagian dari komitmen yayasan dalam memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang dinilai telah memberikan kontribusi.

Dengan demikian, perjalanan ke Tanah Suci tidak hanya membawa misi ibadah bagi jamaah, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar membangun hubungan spiritual dan nilai-nilai kebaikan di lingkungan Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati.


Menariknya, pada perjalanan umrah tahun ini, Prof. Mukarto Siswoyo bersama istrinya, Hj. Ani Mularto Siswoyo, juga turut bergabung dalam rombongan jamaah.

Kehadiran keduanya membuat perjalanan tersebut terasa semakin istimewa. Ketua yayasan tidak hanya memberikan fasilitas dan pesan kepada para jamaah, tetapi juga ikut merasakan langsung perjalanan spiritual bersama rombongan menuju Tanah Suci.

Dengan bekal manasik, pengetahuan fikih, kesiapan fisik dan terutama niat yang telah diluruskan, para jamaah diharapkan mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan khusyuk.

Sebab, seperti pesan Mukarto, yang paling penting dalam perjalanan menuju Baitullah bukan seberapa besar kemampuan seseorang untuk membayar perjalanan, tetapi seberapa siap hati menerima panggilan untuk menjadi tamu Allah. (Wandi)

AADD Biro Jasa STNK
Back To Top