Media Online Yang Inofatif dan Insipiratif
E satu.com (Kota Tangerang ) - Warga Kota Tangerang menghadapi dua persoalan yang datang bergantian. Saat musim kemarau, sejumlah wilayah menghadapi ancaman kekeringan dan keterbatasan air bersih. Ketika hujan dengan intensitas tinggi datang, sejumlah titik justru berpotensi mengalami genangan hingga banjir.
Pada September 2026, BMKG masih mencatat adanya peringatan dini kekeringan di sejumlah wilayah Banten. Pemerintah Kota Tangerang juga sebelumnya menyebut beberapa wilayah kota masuk status kewaspadaan kekeringan.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan cuaca. Penurunan debit Sungai Cisadane, yang menjadi sumber utama air baku Perumda Tirta Benteng, turut menjadi perhatian pemerintah daerah. Pemkot Tangerang telah menyiapkan langkah mitigasi, termasuk bantuan air bersih dan armada untuk wilayah yang membutuhkan.
Di sisi lain, memasuki periode penghujan, persoalan beralih pada kemampuan sistem tata air menampung dan mengalirkan limpasan hujan. Pada Februari 2026, misalnya, 21 titik di delapan kecamatan Kota Tangerang dilaporkan mengalami genangan dengan ketinggian hingga satu meter setelah hujan deras.
Pemerintah Kota Tangerang pada September 2026 mulai melakukan normalisasi sungai dan drainase, termasuk pengerukan sedimentasi di Kali Ledug, Kecamatan Periuk. Langkah tersebut dilakukan sebagai antisipasi menghadapi musim penghujan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan air di perkotaan tidak berhenti pada penanganan ketika bencana terjadi. Pada musim kemarau, kebutuhan utama adalah menjaga ketersediaan air. Sementara menjelang musim hujan, kapasitas sungai, drainase, kolam retensi, dan saluran lingkungan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko genangan.
DPRD Kota Tangerang sebelumnya juga mendorong agar musim kemarau dimanfaatkan untuk melakukan pemetaan dan normalisasi saluran air sebelum musim penghujan tiba.
Karena itu, ukuran kesiapan pemerintah tidak hanya terlihat dari seberapa cepat bantuan air dikirim ketika warga mengalami kekeringan atau seberapa cepat petugas menangani genangan setelah hujan.
Yang juga penting adalah seberapa jauh perencanaan tata kelola air dilakukan sebelum persoalan terjadi, mulai dari pemetaan wilayah rawan, pemeliharaan saluran, pengelolaan sumber air baku, hingga kesiapan menghadapi perubahan pola cuaca.
Kemarau membutuhkan kesiapan menghadapi kekurangan air. Hujan membutuhkan kesiapan menghadapi kelebihan air. Tantangannya adalah bagaimana keduanya dikelola secara berkelanjutan agar masyarakat tidak terus-menerus berada di antara ancaman kekeringan dan banjir.
( AWW )

















.webp)









